PALU – Investasi pada sektor listrik, gas, dan air di Sulawesi Tengah mengalami lonjakan tajam sepanjang Semester I 2026. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah mencatat realisasi investasi sektor tersebut mencapai Rp4,43 triliun, meningkat 414,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp0,86 triliun.

Kepala DPMPTSP Sulawesi Tengah Moh. Rifani Pakamundi mengatakan, sekitar 97 persen investasi sektor kelistrikan itu berada di Kabupaten Morowali. Investasi tersebut terutama diarahkan untuk menopang kebutuhan infrastruktur energi di kawasan industri.

Menurut Rifani, peningkatan investasi pada sektor kelistrikan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Sulawesi Tengah. Perkembangan itu berlangsung ketika sektor pertambangan justru mengalami penurunan nilai investasi pada periode yang sama.

“Realisasi sektor kelistrikan naik tajam menjadi Rp4,43 triliun dari periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp0,86 triliun. Sekitar 97 persen dari investasi kelistrikan ini berada di Kabupaten Morowali untuk menopang infrastruktur kawasan industri,” kata Rifani di Palu, Minggu, 6 September 2026. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392228/dpmptsp-investasi-kelistrikan-di-sulawesi-tengah-melonjak-414-persen?utm_source=openai))

Data DPMPTSP menunjukkan, sektor industri logam dasar masih menjadi penyumbang terbesar investasi di Sulawesi Tengah. Nilainya mencapai Rp51,45 triliun atau sekitar 74,90 persen dari total investasi pada Semester I 2026.

Besarnya porsi investasi di industri logam dasar tidak terlepas dari aktivitas kawasan industri di Morowali. Kawasan tersebut membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar untuk mendukung kegiatan pengolahan mineral dan berbagai industri turunannya. Karena itu, pembangunan maupun penguatan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian penting dari keberlanjutan operasional kawasan industri.

Di sisi lain, investasi sektor pertambangan mengalami kontraksi sebesar 53,4 persen. Nilainya turun Rp3,21 triliun, dari Rp6,01 triliun pada Semester I 2025 menjadi Rp2,80 triliun pada Semester I 2026. DPMPTSP menilai pertumbuhan sektor kelistrikan membantu menahan dampak penurunan investasi pada pertambangan hulu.

“Lonjakan investasi di sektor kelistrikan berhasil menutupi penurunan signifikan dari sektor pertambangan hulu,” ujar Rifani. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392228/dpmptsp-investasi-kelistrikan-di-sulawesi-tengah-melonjak-414-persen?utm_source=openai))

Dari sisi asal modal asing, investasi di Sulawesi Tengah masih didominasi oleh tiga negara. Hong Kong tercatat sebagai penyumbang terbesar dengan nilai investasi Rp26,99 triliun atau 41,70 persen. Berikutnya Singapura sebesar Rp19,18 triliun atau 29,64 persen dan China sebesar Rp17,62 triliun atau 27,23 persen.

Jika investasi dari Hong Kong dan China digabungkan, porsinya mencapai 68,93 persen dari total penanaman modal asing di Sulawesi Tengah. DPMPTSP menyebut perubahan porsi Hong Kong dan China lebih menunjukkan pergeseran jalur administrasi investasi daripada perubahan besar pada struktur asal modal.

Lonjakan investasi kelistrikan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan energi menjadi faktor strategis dalam perkembangan industri di Sulawesi Tengah. Bagi Morowali, tambahan investasi pada sektor ini diharapkan dapat memperkuat keandalan infrastruktur penunjang kawasan industri sekaligus menjaga kesinambungan kegiatan ekonomi daerah.

Namun, pertumbuhan investasi juga perlu diikuti pengawasan terhadap dampak lingkungan, ketenagakerjaan, serta pemerataan manfaat ekonomi. Dengan dominasi investasi yang terkonsentrasi di kawasan industri, pemerintah daerah perlu memastikan pembangunan infrastruktur energi berjalan seimbang dengan peningkatan layanan dasar dan peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan.