Realisasi investasi Sulawesi Tengah pada semester I 2026 mencapai Rp68,70 triliun dan menyerap 19.114 tenaga kerja Indonesia.
Palu – Realisasi investasi di Sulawesi Tengah sepanjang semester I 2026 mencapai Rp68,70 triliun. Nilai tersebut tercatat menyerap 19.114 tenaga kerja Indonesia, meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah menunjukkan jumlah tenaga kerja Indonesia yang terserap naik 22,29 persen dari 15.630 orang pada semester I 2025. Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nilai investasi yang mencapai 6,97 persen. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
Kepala DPMPTSP Sulawesi Tengah Moh. Rifani Pakamundi mengatakan capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan nilai modal, tetapi juga memberikan dampak terhadap pembukaan lapangan kerja.
Selain tenaga kerja Indonesia, proyek investasi di Sulawesi Tengah juga menggunakan 1.892 tenaga kerja asing. Jumlah itu setara sekitar 9,01 persen dari keseluruhan tenaga kerja yang tercatat dalam realisasi investasi semester pertama tahun ini. Dengan demikian, perbandingan tenaga kerja Indonesia dan tenaga kerja asing berada pada kisaran 10,10 berbanding satu. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
Dari sisi sumber modal, Penanaman Modal Asing (PMA) masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp64,73 triliun atau sekitar 94,23 persen dari total investasi. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp3,96 triliun atau 5,77 persen.
Proyek PMA menyerap 12.614 tenaga kerja Indonesia dan 1.845 tenaga kerja asing. Adapun proyek PMDN menyerap 6.500 tenaga kerja Indonesia dan 47 tenaga kerja asing. Data tersebut menunjukkan kontribusi proyek dalam negeri cukup besar terhadap penyerapan pekerja Indonesia, meski nilai investasinya jauh lebih kecil dibandingkan PMA. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
Kabupaten Morowali masih menjadi pusat utama investasi di Sulawesi Tengah. Wilayah tersebut membukukan realisasi investasi sekitar Rp65,87 triliun atau 95,88 persen dari total investasi provinsi. Dominasi itu berkaitan dengan aktivitas industri logam dasar dan pengolahan nikel yang berkembang di kawasan Morowali.
Setelah Morowali, daerah dengan nilai investasi terbesar berikutnya adalah Morowali Utara sebesar Rp1,06 triliun, Kabupaten Banggai sekitar Rp786,46 miliar, Kota Palu Rp424,43 miliar, dan Kabupaten Sigi sekitar Rp207,02 miliar. Meski distribusi nilai investasi masih terkonsentrasi, seluruh 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah tercatat memiliki realisasi investasi pada semester I 2026. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
DPMPTSP juga mencatat sejumlah daerah telah melampaui target investasi tahunannya sebelum semester pertama berakhir. Kabupaten Tojo Una-Una mencapai 218,97 persen dari target, disusul Buol 173,65 persen, Parigi Moutong 116,38 persen, dan Poso 110,70 persen.
Di sisi lain, beberapa daerah masih membutuhkan percepatan untuk mengejar target. Kabupaten Donggala baru mencapai 13,75 persen dari target Rp600 miliar, Banggai Kepulauan 16,14 persen, Morowali Utara 35,04 persen, dan Kota Palu 40,42 persen.
DPMPTSP menilai Donggala masih memiliki peluang untuk mengembangkan investasi di luar sektor industri, terutama pariwisata bahari, perkebunan, dan pengolahan komoditas kelapa. Diversifikasi sektor dinilai penting agar pertumbuhan investasi tidak hanya bertumpu pada kawasan industri dan pengolahan nikel di Morowali.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah menunjukkan jumlah tenaga kerja Indonesia yang terserap naik 22,29 persen dari 15.630 orang pada semester I 2025. Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nilai investasi yang mencapai 6,97 persen. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
Kepala DPMPTSP Sulawesi Tengah Moh. Rifani Pakamundi mengatakan capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan nilai modal, tetapi juga memberikan dampak terhadap pembukaan lapangan kerja.
Selain tenaga kerja Indonesia, proyek investasi di Sulawesi Tengah juga menggunakan 1.892 tenaga kerja asing. Jumlah itu setara sekitar 9,01 persen dari keseluruhan tenaga kerja yang tercatat dalam realisasi investasi semester pertama tahun ini. Dengan demikian, perbandingan tenaga kerja Indonesia dan tenaga kerja asing berada pada kisaran 10,10 berbanding satu. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
Dari sisi sumber modal, Penanaman Modal Asing (PMA) masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp64,73 triliun atau sekitar 94,23 persen dari total investasi. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp3,96 triliun atau 5,77 persen.
Proyek PMA menyerap 12.614 tenaga kerja Indonesia dan 1.845 tenaga kerja asing. Adapun proyek PMDN menyerap 6.500 tenaga kerja Indonesia dan 47 tenaga kerja asing. Data tersebut menunjukkan kontribusi proyek dalam negeri cukup besar terhadap penyerapan pekerja Indonesia, meski nilai investasinya jauh lebih kecil dibandingkan PMA. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
Kabupaten Morowali masih menjadi pusat utama investasi di Sulawesi Tengah. Wilayah tersebut membukukan realisasi investasi sekitar Rp65,87 triliun atau 95,88 persen dari total investasi provinsi. Dominasi itu berkaitan dengan aktivitas industri logam dasar dan pengolahan nikel yang berkembang di kawasan Morowali.
Setelah Morowali, daerah dengan nilai investasi terbesar berikutnya adalah Morowali Utara sebesar Rp1,06 triliun, Kabupaten Banggai sekitar Rp786,46 miliar, Kota Palu Rp424,43 miliar, dan Kabupaten Sigi sekitar Rp207,02 miliar. Meski distribusi nilai investasi masih terkonsentrasi, seluruh 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah tercatat memiliki realisasi investasi pada semester I 2026. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))
DPMPTSP juga mencatat sejumlah daerah telah melampaui target investasi tahunannya sebelum semester pertama berakhir. Kabupaten Tojo Una-Una mencapai 218,97 persen dari target, disusul Buol 173,65 persen, Parigi Moutong 116,38 persen, dan Poso 110,70 persen.
Di sisi lain, beberapa daerah masih membutuhkan percepatan untuk mengejar target. Kabupaten Donggala baru mencapai 13,75 persen dari target Rp600 miliar, Banggai Kepulauan 16,14 persen, Morowali Utara 35,04 persen, dan Kota Palu 40,42 persen.
DPMPTSP menilai Donggala masih memiliki peluang untuk mengembangkan investasi di luar sektor industri, terutama pariwisata bahari, perkebunan, dan pengolahan komoditas kelapa. Diversifikasi sektor dinilai penting agar pertumbuhan investasi tidak hanya bertumpu pada kawasan industri dan pengolahan nikel di Morowali.
Sumber: ANTARA News Sulteng — Sumber asli
