Harga cabai di sejumlah pasar Sulawesi Tengah melonjak hingga Rp170 ribu per kilogram. Pemprov menyiapkan pasar murah dan mencari pasokan alternatif.
Harga cabai di sejumlah pasar di Sulawesi Tengah melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng pada Senin, 7 September 2026, harga sejumlah jenis cabai berada pada kisaran Rp105 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi. Kondisi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Nino disebut berdampak terhadap produksi dan distribusi cabai ke wilayah Sulawesi Tengah.
Kepala Disperindag Sulteng Richard Arnaldo Djanggola mengatakan pemerintah daerah sedang memperkuat koordinasi dengan dinas pertanian di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Koordinasi itu dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan sekaligus mencari wilayah penghasil yang masih memiliki surplus produksi.
Menurut data yang dikutip dari Disperindag Sulteng, harga cabai rawit hijau tercatat sekitar Rp105 ribu per kilogram. Cabai rawit merah berada di kisaran Rp95 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah keriting mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram. Untuk jenis cabai rawit lainnya, harga berada di sekitar Rp35 ribu per kilogram.
Namun, harga di lapangan dapat berbeda antarwilayah dan pasar. ANTARA melaporkan harga cabai di sejumlah pasar Sulteng bahkan menembus Rp170 ribu per kilogram. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis cabai, lokasi pasar, jalur distribusi, serta ketersediaan barang pada tingkat pedagang.
Sebagian besar pasokan cabai yang masuk ke Sulawesi Tengah selama ini berasal dari Sulawesi Selatan. Pada saat yang sama, daerah penghasil di Sulawesi Selatan juga menghadapi keterbatasan pasokan karena harus memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri.
Sulteng sebenarnya memiliki daerah penghasil cabai, antara lain Kabupaten Sigi dan kawasan Napu di Kabupaten Poso. Akan tetapi, produksi dari kedua wilayah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar sehingga pasokan dari luar daerah masih diperlukan.
Disperindag Sulteng juga mempertimbangkan pasokan dari daerah lain apabila terdapat kelebihan produksi. Pasokan tersebut nantinya dapat disalurkan melalui distributor di Sulawesi Tengah untuk membantu menekan harga di tingkat konsumen.
Richard menjelaskan, cabai memiliki sifat mudah rusak sehingga tidak dapat disimpan dalam jumlah besar untuk waktu lama. Karena itu, kelancaran distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan cabai di pasar. Jika pasokan terlambat atau berkurang, harga dapat bergerak cepat dalam waktu singkat.
Sebagai langkah intervensi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyiapkan pasar murah di sejumlah titik selama September 2026. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, sekaligus mengurangi tekanan kenaikan harga di pasar tradisional.
Selain cabai, pemantauan Disperindag juga mencatat pergerakan harga sejumlah bahan pangan lain. Beras medium dan premium berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram. Sementara itu, beberapa jenis bawang mengalami penurunan harga, meskipun kondisi setiap pasar dapat berbeda.
Masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian secara berlebihan agar pasokan tetap tersedia. Pemerintah daerah juga diharapkan menyampaikan jadwal dan lokasi pasar murah secara terbuka sehingga dapat diakses warga yang paling terdampak kenaikan harga.
Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi. Kondisi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Nino disebut berdampak terhadap produksi dan distribusi cabai ke wilayah Sulawesi Tengah.
Kepala Disperindag Sulteng Richard Arnaldo Djanggola mengatakan pemerintah daerah sedang memperkuat koordinasi dengan dinas pertanian di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Koordinasi itu dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan sekaligus mencari wilayah penghasil yang masih memiliki surplus produksi.
Menurut data yang dikutip dari Disperindag Sulteng, harga cabai rawit hijau tercatat sekitar Rp105 ribu per kilogram. Cabai rawit merah berada di kisaran Rp95 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah keriting mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram. Untuk jenis cabai rawit lainnya, harga berada di sekitar Rp35 ribu per kilogram.
Namun, harga di lapangan dapat berbeda antarwilayah dan pasar. ANTARA melaporkan harga cabai di sejumlah pasar Sulteng bahkan menembus Rp170 ribu per kilogram. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis cabai, lokasi pasar, jalur distribusi, serta ketersediaan barang pada tingkat pedagang.
Sebagian besar pasokan cabai yang masuk ke Sulawesi Tengah selama ini berasal dari Sulawesi Selatan. Pada saat yang sama, daerah penghasil di Sulawesi Selatan juga menghadapi keterbatasan pasokan karena harus memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri.
Sulteng sebenarnya memiliki daerah penghasil cabai, antara lain Kabupaten Sigi dan kawasan Napu di Kabupaten Poso. Akan tetapi, produksi dari kedua wilayah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar sehingga pasokan dari luar daerah masih diperlukan.
Disperindag Sulteng juga mempertimbangkan pasokan dari daerah lain apabila terdapat kelebihan produksi. Pasokan tersebut nantinya dapat disalurkan melalui distributor di Sulawesi Tengah untuk membantu menekan harga di tingkat konsumen.
Richard menjelaskan, cabai memiliki sifat mudah rusak sehingga tidak dapat disimpan dalam jumlah besar untuk waktu lama. Karena itu, kelancaran distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan cabai di pasar. Jika pasokan terlambat atau berkurang, harga dapat bergerak cepat dalam waktu singkat.
Sebagai langkah intervensi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyiapkan pasar murah di sejumlah titik selama September 2026. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, sekaligus mengurangi tekanan kenaikan harga di pasar tradisional.
Selain cabai, pemantauan Disperindag juga mencatat pergerakan harga sejumlah bahan pangan lain. Beras medium dan premium berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram. Sementara itu, beberapa jenis bawang mengalami penurunan harga, meskipun kondisi setiap pasar dapat berbeda.
Masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian secara berlebihan agar pasokan tetap tersedia. Pemerintah daerah juga diharapkan menyampaikan jadwal dan lokasi pasar murah secara terbuka sehingga dapat diakses warga yang paling terdampak kenaikan harga.
Sumber: ANTARA News — Sumber asli
