Konsentrasi PM2.5 di Palu melonjak hingga 110 µg/m³ pada 2 September 2026. Warga diminta mengurangi paparan debu dan asap.
Kualitas udara di Kota Palu, Sulawesi Tengah, memburuk pada awal September 2026. Hasil pemantauan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 110 mikrogram per meter kubik pada 2 September 2026.
Angka tersebut merupakan lonjakan cukup tajam dibandingkan pemantauan beberapa hari sebelumnya. Pada 29 Agustus, konsentrasi PM2.5 tercatat sekitar 70 mikrogram per meter kubik. Nilainya kemudian berada di kisaran 66 mikrogram per meter kubik pada 31 Agustus, meningkat menjadi 79 mikrogram per meter kubik pada 1 September, lalu mencapai 110 mikrogram per meter kubik sehari setelahnya. ([rindang.id](https://rindang.id/2026/09/02/kualitas-udara-palu-capai-rekor-terburuk-ada-jejak-debu-karhutla-hingga-tambang/))
Pada hari yang sama, konsentrasi PM10 juga mencapai 106 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM1 tercatat 104 mikrogram per meter kubik. Data tersebut menempatkan PM2.5 dan PM10 dalam kategori tidak sehat berdasarkan hasil pemantauan yang dikutip media lokal dari SPAG Lore Lindu Bariri.
Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, menyebut kondisi pada 2 September sebagai salah satu hasil pemantauan terburuk dalam periode tersebut. Peningkatan partikulat terjadi ketika Sulawesi Tengah masih menghadapi musim kemarau panjang, sehingga debu lebih mudah bertahan di udara dan tidak segera tersapu hujan.
Selain faktor cuaca, keberadaan titik panas di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah juga berpotensi menambah partikulat di atmosfer. Asap dari kebakaran lahan dapat terbawa angin menuju kawasan perkotaan. Kondisi geografis Palu yang berada di kawasan lembah turut memungkinkan debu dan polutan terakumulasi ketika sirkulasi udara tidak cukup kuat.
SPAG Lore Lindu Bariri juga menyebut sumber partikulat dapat berasal dari aktivitas di sekitar kota, termasuk debu jalan, kegiatan galian C, serta aktivitas pertambangan. Namun, penentuan kontribusi masing-masing sumber membutuhkan kajian dan pemantauan lebih lanjut. Karena itu, data tersebut tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa satu aktivitas tertentu menjadi penyebab tunggal memburuknya kualitas udara.
Warga diimbau mengurangi paparan debu dan asap selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah di sekitar rumah serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan. SPAG Lore Lindu Bariri menyarankan pengurangan kegiatan luar ruang apabila nilai Indeks Standar Pencemar Udara telah berada di atas 100. ([rindang.id](https://rindang.id/2026/09/02/kualitas-udara-palu-capai-rekor-terburuk-ada-jejak-debu-karhutla-hingga-tambang/))
Kondisi ini menjadi perhatian karena kemarau panjang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebelumnya menyampaikan bahwa hujan pada 9-11 September berpotensi turun secara terbatas di Sigi, sebagian Donggala, dan sebagian Tolitoli. Untuk Kota Palu, hujan yang diperkirakan turun masih bersifat lokal dengan intensitas ringan. ([m.antaranews.com](https://m.antaranews.com/amp/berita/5731128/bmkg-tiga-kabupaten-di-sulteng-berpotensi-hujan-pada-9-11-september?utm_source=openai))
Pemerintah daerah dan masyarakat perlu menjadikan data kualitas udara sebagai dasar untuk memperkuat pencegahan kebakaran lahan, pengendalian debu, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi menghasilkan partikulat. Pemantauan rutin juga penting agar warga memperoleh informasi yang jelas ketika kualitas udara kembali menurun.
Angka tersebut merupakan lonjakan cukup tajam dibandingkan pemantauan beberapa hari sebelumnya. Pada 29 Agustus, konsentrasi PM2.5 tercatat sekitar 70 mikrogram per meter kubik. Nilainya kemudian berada di kisaran 66 mikrogram per meter kubik pada 31 Agustus, meningkat menjadi 79 mikrogram per meter kubik pada 1 September, lalu mencapai 110 mikrogram per meter kubik sehari setelahnya. ([rindang.id](https://rindang.id/2026/09/02/kualitas-udara-palu-capai-rekor-terburuk-ada-jejak-debu-karhutla-hingga-tambang/))
Pada hari yang sama, konsentrasi PM10 juga mencapai 106 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM1 tercatat 104 mikrogram per meter kubik. Data tersebut menempatkan PM2.5 dan PM10 dalam kategori tidak sehat berdasarkan hasil pemantauan yang dikutip media lokal dari SPAG Lore Lindu Bariri.
Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, menyebut kondisi pada 2 September sebagai salah satu hasil pemantauan terburuk dalam periode tersebut. Peningkatan partikulat terjadi ketika Sulawesi Tengah masih menghadapi musim kemarau panjang, sehingga debu lebih mudah bertahan di udara dan tidak segera tersapu hujan.
Selain faktor cuaca, keberadaan titik panas di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah juga berpotensi menambah partikulat di atmosfer. Asap dari kebakaran lahan dapat terbawa angin menuju kawasan perkotaan. Kondisi geografis Palu yang berada di kawasan lembah turut memungkinkan debu dan polutan terakumulasi ketika sirkulasi udara tidak cukup kuat.
SPAG Lore Lindu Bariri juga menyebut sumber partikulat dapat berasal dari aktivitas di sekitar kota, termasuk debu jalan, kegiatan galian C, serta aktivitas pertambangan. Namun, penentuan kontribusi masing-masing sumber membutuhkan kajian dan pemantauan lebih lanjut. Karena itu, data tersebut tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa satu aktivitas tertentu menjadi penyebab tunggal memburuknya kualitas udara.
Warga diimbau mengurangi paparan debu dan asap selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah di sekitar rumah serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan. SPAG Lore Lindu Bariri menyarankan pengurangan kegiatan luar ruang apabila nilai Indeks Standar Pencemar Udara telah berada di atas 100. ([rindang.id](https://rindang.id/2026/09/02/kualitas-udara-palu-capai-rekor-terburuk-ada-jejak-debu-karhutla-hingga-tambang/))
Kondisi ini menjadi perhatian karena kemarau panjang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebelumnya menyampaikan bahwa hujan pada 9-11 September berpotensi turun secara terbatas di Sigi, sebagian Donggala, dan sebagian Tolitoli. Untuk Kota Palu, hujan yang diperkirakan turun masih bersifat lokal dengan intensitas ringan. ([m.antaranews.com](https://m.antaranews.com/amp/berita/5731128/bmkg-tiga-kabupaten-di-sulteng-berpotensi-hujan-pada-9-11-september?utm_source=openai))
Pemerintah daerah dan masyarakat perlu menjadikan data kualitas udara sebagai dasar untuk memperkuat pencegahan kebakaran lahan, pengendalian debu, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi menghasilkan partikulat. Pemantauan rutin juga penting agar warga memperoleh informasi yang jelas ketika kualitas udara kembali menurun.
Sumber: SPAG Lore Lindu Bariri BMKG — Sumber asli
