Kementerian Pertanian bersama BRIN dan pemerintah daerah meneliti gejala ‘Bangkalan’ yang menurunkan kualitas serta produksi durian di Sulteng.
Kementerian Pertanian menurunkan tim ahli untuk meneliti gejala yang oleh petani disebut “Bangkalan” pada tanaman durian di Sulawesi Tengah. Gejala tersebut dilaporkan berdampak pada penurunan produksi dan kualitas buah di Kabupaten Parigi Moutong serta Kabupaten Poso.
Penanganan dilakukan setelah adanya laporan mengenai buah durian yang gugur sebelum mencapai tingkat kematangan optimal. Sebagian buah yang berhasil dipanen juga dilaporkan memiliki daging mengkal, aroma yang berkurang, rasa hambar, serta warna daging yang cenderung pucat.
Kondisi ini menjadi perhatian karena durian merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dikembangkan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Kabupaten Poso dan Parigi Moutong termasuk daerah yang selama ini memiliki sentra produksi durian dan menjadi bagian dari upaya pengembangan komoditas tersebut untuk pasar yang lebih luas.
Tim gabungan telah melakukan pengamatan lapangan pada 26-27 Agustus 2026. Tim tersebut melibatkan Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional, pemerintah daerah, Dinas Pertanian Sulawesi Tengah, Dinas Pertanian Kabupaten Parigi Moutong dan Poso, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, BRIDA, unit pelaksana teknis perlindungan tanaman, akademisi dari Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat, penyuluh, pengamat organisme pengganggu tumbuhan, serta Asosiasi Komoditas Durian Indonesia.
Dari pengamatan awal, gejala tersebut diduga berkaitan dengan gangguan fisiologis tanaman pada fase berbuah. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro maupun mikro. Kondisi keasaman tanah atau pH juga ikut diperiksa karena tanah yang terlalu masam dapat menghambat penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.
Namun, pemerintah belum menetapkan penyebab akhir dari gangguan tersebut. Untuk memastikan faktor yang memengaruhi tanaman, tim melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel tanah, daun, dan buah durian. Sampel diambil dari tanaman yang menunjukkan gejala maupun tanaman yang tumbuh normal sebagai pembanding.
Pengujian tersebut penting dilakukan agar rekomendasi penanganan tidak hanya didasarkan pada dugaan lapangan. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat menjelaskan apakah gangguan terutama dipengaruhi oleh kondisi tanah dan nutrisi, faktor lingkungan, teknik budidaya, atau penyebab lain yang masih perlu diteliti.
Kementerian Pertanian menyatakan pendampingan akan dilanjutkan sampai diperoleh langkah penanganan yang lebih tepat. Rekomendasi nantinya diharapkan dapat membantu petani memperbaiki pemupukan, mengelola kesuburan tanah, serta menjaga kualitas tanaman selama fase pembungaan dan pembentukan buah.
Bagi petani, kepastian penyebab menjadi hal penting karena gejala tersebut berpengaruh langsung terhadap hasil panen dan pendapatan. Buah yang gugur sebelum matang atau memiliki mutu rendah tentu mengurangi nilai jual dan dapat mengganggu pasokan durian dari daerah sentra.
Pemerintah daerah bersama perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga didorong untuk terus mendampingi petani selama proses identifikasi berlangsung. Petani diharapkan mencatat pola kemunculan gejala, kondisi lahan, penggunaan pupuk, serta perubahan cuaca agar informasi yang dikumpulkan dapat membantu proses penelitian.
Kementan menyebut hasil pengujian lapangan dan laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan rekomendasi lanjutan. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat memulihkan produktivitas dan kualitas durian di Sulawesi Tengah sekaligus menjaga peluang pengembangan komoditas durian sebagai sumber pendapatan petani.
Penanganan dilakukan setelah adanya laporan mengenai buah durian yang gugur sebelum mencapai tingkat kematangan optimal. Sebagian buah yang berhasil dipanen juga dilaporkan memiliki daging mengkal, aroma yang berkurang, rasa hambar, serta warna daging yang cenderung pucat.
Kondisi ini menjadi perhatian karena durian merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dikembangkan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Kabupaten Poso dan Parigi Moutong termasuk daerah yang selama ini memiliki sentra produksi durian dan menjadi bagian dari upaya pengembangan komoditas tersebut untuk pasar yang lebih luas.
Tim gabungan telah melakukan pengamatan lapangan pada 26-27 Agustus 2026. Tim tersebut melibatkan Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional, pemerintah daerah, Dinas Pertanian Sulawesi Tengah, Dinas Pertanian Kabupaten Parigi Moutong dan Poso, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, BRIDA, unit pelaksana teknis perlindungan tanaman, akademisi dari Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat, penyuluh, pengamat organisme pengganggu tumbuhan, serta Asosiasi Komoditas Durian Indonesia.
Dari pengamatan awal, gejala tersebut diduga berkaitan dengan gangguan fisiologis tanaman pada fase berbuah. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro maupun mikro. Kondisi keasaman tanah atau pH juga ikut diperiksa karena tanah yang terlalu masam dapat menghambat penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.
Namun, pemerintah belum menetapkan penyebab akhir dari gangguan tersebut. Untuk memastikan faktor yang memengaruhi tanaman, tim melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel tanah, daun, dan buah durian. Sampel diambil dari tanaman yang menunjukkan gejala maupun tanaman yang tumbuh normal sebagai pembanding.
Pengujian tersebut penting dilakukan agar rekomendasi penanganan tidak hanya didasarkan pada dugaan lapangan. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat menjelaskan apakah gangguan terutama dipengaruhi oleh kondisi tanah dan nutrisi, faktor lingkungan, teknik budidaya, atau penyebab lain yang masih perlu diteliti.
Kementerian Pertanian menyatakan pendampingan akan dilanjutkan sampai diperoleh langkah penanganan yang lebih tepat. Rekomendasi nantinya diharapkan dapat membantu petani memperbaiki pemupukan, mengelola kesuburan tanah, serta menjaga kualitas tanaman selama fase pembungaan dan pembentukan buah.
Bagi petani, kepastian penyebab menjadi hal penting karena gejala tersebut berpengaruh langsung terhadap hasil panen dan pendapatan. Buah yang gugur sebelum matang atau memiliki mutu rendah tentu mengurangi nilai jual dan dapat mengganggu pasokan durian dari daerah sentra.
Pemerintah daerah bersama perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga didorong untuk terus mendampingi petani selama proses identifikasi berlangsung. Petani diharapkan mencatat pola kemunculan gejala, kondisi lahan, penggunaan pupuk, serta perubahan cuaca agar informasi yang dikumpulkan dapat membantu proses penelitian.
Kementan menyebut hasil pengujian lapangan dan laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan rekomendasi lanjutan. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat memulihkan produktivitas dan kualitas durian di Sulawesi Tengah sekaligus menjaga peluang pengembangan komoditas durian sebagai sumber pendapatan petani.
Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian — Sumber asli
