PARIGI MOUTONG – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mendirikan posko siaga darurat untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang diperkirakan meningkat selama puncak musim kemarau pada September 2026.

Pelaksana tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, Moh Rivai, mengatakan posko tersebut dibentuk sebagai pusat koordinasi pemantauan dan penanganan bencana di sejumlah wilayah yang berisiko mengalami penurunan debit air maupun kebakaran lahan.

Menurut Rivai, wilayah yang menjadi cakupan utama posko meliputi Kecamatan Bolano, Bolano Lambunu, Taopa, dan Moutong. Daerah-daerah tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena berpotensi mengalami krisis air bersih apabila kondisi kemarau berlangsung lebih panjang dan curah hujan tetap rendah.

“Pemerintah telah mengumumkan bahwa September 2026 merupakan puncak musim kemarau dan dampak kuat fenomena El Nino, maka daerah melakukan kesiapsiagaan menghadapi kondisi itu,” kata Rivai di Parigi, Minggu, 6 September 2026.

Selain ancaman kekeringan, BPBD juga mencatat adanya kejadian kebakaran di Desa Santigi serta wilayah Bolano Lambunu, Kecamatan Bolano Lambunu. Peristiwa tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena kondisi lahan yang kering dapat mempercepat penyebaran api, terutama jika kebakaran dipicu oleh pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla di delapan kecamatan. Wilayah itu terdiri atas Palasa, Tomini, Mepanga, Ongka Malino, Bolano, Bolano Lambunu, Taopa, dan Moutong.

Penetapan status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi, mengerahkan sumber daya, meningkatkan pemantauan, serta mempercepat respons apabila terjadi kebakaran atau kekurangan air bersih. Penanganan melibatkan personel pemadam kebakaran, TNI dan Polri, Taruna Siaga Bencana, pemerintah kecamatan dan desa, Forum Pengurangan Risiko Bencana, serta unsur terkait lainnya.

Untuk membantu warga yang terdampak kekeringan, BPBD menyiapkan satu unit mobil tangki di Kecamatan Bolano. Kendaraan itu akan digunakan untuk memasok kebutuhan air bersih masyarakat sekaligus mendukung kegiatan penanganan di lokasi yang membutuhkan.

Sejumlah peralatan juga telah ditempatkan di posko. Peralatan tersebut antara lain tenda pengungsian, dua tempat tidur lipat, dua unit mesin penyedot air, kompor dan tabung gas, penampung air, tiga set tandon beserta penyangga, serta peralatan pemadaman berupa jet shooter dan alat pemukul api.

Berdasarkan prakiraan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri BMKG, puncak musim kemarau 2026 di Sulawesi Tengah diperkirakan terjadi pada September di sekitar 72 persen wilayah. BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Sulteng.

BPBD mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta menghemat penggunaan air dan segera melaporkan apabila menemukan titik api, kebakaran lahan, atau wilayah yang mulai mengalami kekurangan air bersih.

Laporan bencana di Parigi Moutong dapat disampaikan melalui layanan darurat 112, call center BNPB 117, maupun Pusat Pengendalian Operasi dan Informasi BPBD setempat. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi pemerintah dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperbesar risiko kebakaran selama musim kemarau.