PALU – Investasi pada sektor listrik, gas, dan air di Sulawesi Tengah melonjak 414,8 persen sepanjang semester I 2026. Nilainya mencapai Rp4,43 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp860 miliar.

Data tersebut disampaikan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah. Kepala DPMPTSP Sulteng Moh. Rifani Pakamundi mengatakan, sekitar 97 persen investasi pada sektor kelistrikan itu berada di Kabupaten Morowali.

Menurut Rifani, peningkatan tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan infrastruktur energi di kawasan industri. Morowali menjadi salah satu pusat pengolahan mineral dan industri logam dasar di Sulteng, sehingga pasokan listrik, gas, dan air menjadi bagian penting untuk menjaga kelangsungan operasional kawasan tersebut.

Kenaikan investasi kelistrikan terjadi ketika sektor pertambangan mengalami penurunan. DPMPTSP mencatat investasi di sektor pertambangan turun 53,4 persen, dari Rp6,01 triliun pada semester I 2025 menjadi sekitar Rp2,80 triliun pada semester I 2026.

Perubahan itu menunjukkan adanya pergeseran sebagian investasi dari kegiatan pertambangan hulu menuju infrastruktur penunjang industri. Pemerintah daerah menilai, penguatan infrastruktur energi dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru, terutama ketika investasi di sektor pertambangan tidak lagi tumbuh setinggi periode sebelumnya.

Secara keseluruhan, realisasi investasi Sulawesi Tengah pada semester I 2026 mencapai Rp68,70 triliun. Capaian itu setara dengan 73,17 persen dari target tahunan sebesar Rp93,89 triliun. Angka tersebut juga menempatkan Sulteng sebagai salah satu provinsi dengan realisasi investasi terbesar secara nasional pada paruh pertama tahun ini.

Sekretariat Negara sebelumnya mencatat Sulawesi Tengah masuk lima besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi pada semester I 2026. Dalam daftar tersebut, Sulteng berada di bawah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur, serta berada di atas Banten dengan nilai investasi sekitar Rp68,7 triliun. ([setneg.go.id](https://setneg.go.id/baca/index/presiden_prabowo_terima_laporan_realisasi_investasi_semester_i_2026_capai_rp10106_triliun_serap_hampir_145_juta_tenaga_kerja?utm_source=openai))

Namun, besarnya nilai investasi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. DPMPTSP mencatat Kabupaten Morowali menyumbang sekitar Rp65,87 triliun atau 95,88 persen dari total realisasi investasi Sulteng. Morowali Utara berada di posisi berikutnya dengan sekitar Rp1,06 triliun, disusul Banggai Rp790 miliar, Palu Rp420 miliar, dan Sigi sekitar Rp210 miliar. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392071/dpmptsp-sulawesi-tengah-catat-investasi-serap-19114-tenaga-kerja-lokal?utm_source=openai))

Konsentrasi investasi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah agar manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan di kawasan industri. Pemerintah perlu memperkuat keterkaitan antara proyek-proyek besar dengan pelaku usaha lokal, termasuk penyedia jasa, kontraktor, pemasok kebutuhan industri, serta sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Dari sisi tenaga kerja, realisasi investasi sepanjang semester I 2026 tercatat menyerap 19.114 tenaga kerja Indonesia. Jumlah itu meningkat 22,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 15.630 orang. Pada saat yang sama, tenaga kerja asing yang tercatat bekerja dalam aktivitas investasi berjumlah 1.892 orang.

Data tersebut menunjukkan investasi memberikan tambahan lapangan kerja, tetapi pemerintah tetap perlu memastikan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal. Kebutuhan industri energi dan pengolahan mineral cenderung memerlukan keahlian teknis tertentu, sehingga pelatihan vokasi dan sertifikasi menjadi bagian penting agar masyarakat Sulteng dapat mengisi lebih banyak posisi strategis.

DPMPTSP juga mencatat sejumlah daerah telah melampaui target investasi tahunannya sebelum pertengahan 2026, antara lain Tojo Una-Una, Buol, Parigi Moutong, dan Poso. Capaian tersebut menjadi indikasi bahwa peluang investasi mulai muncul di luar pusat industri Morowali, meskipun nilainya belum sebanding dengan konsentrasi modal di kawasan industri tersebut.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah kini menghadapi pekerjaan lanjutan untuk menjaga kualitas investasi. Pertumbuhan modal di sektor kelistrikan perlu diikuti dengan kepastian pasokan energi, pengawasan lingkungan, peningkatan kompetensi tenaga kerja, dan perluasan kemitraan dengan usaha lokal agar pertumbuhan ekonomi lebih merata.