Warga bersama pemerintah daerah Tojo Una-Una menggelar salat istisqa di Ampana untuk memohon hujan di tengah kemarau dan ancaman karhutla.
Warga bersama Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una menggelar salat istisqa di Lapangan Stamina, Kecamatan Ampana Kota, Jumat (11/9/2026) pagi. Salat tersebut menjadi ikhtiar bersama menghadapi kemarau panjang yang mulai berdampak pada ketersediaan air dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 07.00 WITA dan diikuti Bupati Tojo Una-Una Ilham Lawidu, jajaran pemerintah daerah, Kantor Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, serta masyarakat. Pelaksanaan salat istisqa dilanjutkan dengan khotbah dan doa bersama agar hujan segera turun di wilayah tersebut.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tojo Una-Una, Muh. Syahruddin, mengatakan salat istisqa merupakan bentuk ikhtiar masyarakat dalam menghadapi kondisi kemarau yang telah memengaruhi lingkungan. Sejumlah sungai dilaporkan mengalami penyusutan debit air, sementara lahan yang mengering membuat potensi kebakaran semakin besar.
“Melalui Sholat Istisqa ini, kita bersama-sama memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera diturunkan. Kita berharap hujan yang turun nantinya membawa manfaat bagi masyarakat, mengatasi kekeringan, dan membantu menghentikan kebakaran,” kata Syahruddin sebagaimana diberitakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut bukan hanya menjadi kekhawatiran warga, tetapi juga telah mendapat perhatian dalam penanganan kebencanaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan kebakaran lahan terjadi di Desa Betaua, Kecamatan Tojo, pada 8 September 2026. Areal yang terbakar diperkirakan sekitar 10 hektare dan saat laporan disusun masih dalam pendataan.
Penanganan kebakaran di Betaua melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah desa, aparat kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat. Petugas menghadapi kendala angin kencang dan masih melakukan pemantauan untuk mencegah api merambat ke permukiman warga. BNPB juga mencatat kebutuhan peralatan pemadaman karhutla menjadi salah satu perhatian di lapangan.
Sebelumnya, kebakaran lahan juga terjadi di kawasan Gunung Kalendang, Desa Balinggara, Tojo Una-Una, pada Agustus 2026. Kebakaran tersebut berdampak pada sekitar 20 hektare lahan sebelum berhasil dipadamkan oleh petugas gabungan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah mengalami puncak musim kemarau pada September 2026. BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menyebut musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dari biasanya di sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi udara yang kering dan suhu tinggi dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, hujan lokal masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah sehingga masyarakat tetap diminta memantau informasi cuaca dan peringatan dini.
Selain menjadi kegiatan keagamaan, pelaksanaan salat istisqa di Ampana memperlihatkan keresahan warga terhadap dampak kemarau yang semakin nyata. Pemerintah dan masyarakat diharapkan tetap memperkuat penghematan air, menghindari pembakaran lahan, serta segera melaporkan titik api agar tidak meluas.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 07.00 WITA dan diikuti Bupati Tojo Una-Una Ilham Lawidu, jajaran pemerintah daerah, Kantor Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, serta masyarakat. Pelaksanaan salat istisqa dilanjutkan dengan khotbah dan doa bersama agar hujan segera turun di wilayah tersebut.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tojo Una-Una, Muh. Syahruddin, mengatakan salat istisqa merupakan bentuk ikhtiar masyarakat dalam menghadapi kondisi kemarau yang telah memengaruhi lingkungan. Sejumlah sungai dilaporkan mengalami penyusutan debit air, sementara lahan yang mengering membuat potensi kebakaran semakin besar.
“Melalui Sholat Istisqa ini, kita bersama-sama memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera diturunkan. Kita berharap hujan yang turun nantinya membawa manfaat bagi masyarakat, mengatasi kekeringan, dan membantu menghentikan kebakaran,” kata Syahruddin sebagaimana diberitakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut bukan hanya menjadi kekhawatiran warga, tetapi juga telah mendapat perhatian dalam penanganan kebencanaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan kebakaran lahan terjadi di Desa Betaua, Kecamatan Tojo, pada 8 September 2026. Areal yang terbakar diperkirakan sekitar 10 hektare dan saat laporan disusun masih dalam pendataan.
Penanganan kebakaran di Betaua melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah desa, aparat kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat. Petugas menghadapi kendala angin kencang dan masih melakukan pemantauan untuk mencegah api merambat ke permukiman warga. BNPB juga mencatat kebutuhan peralatan pemadaman karhutla menjadi salah satu perhatian di lapangan.
Sebelumnya, kebakaran lahan juga terjadi di kawasan Gunung Kalendang, Desa Balinggara, Tojo Una-Una, pada Agustus 2026. Kebakaran tersebut berdampak pada sekitar 20 hektare lahan sebelum berhasil dipadamkan oleh petugas gabungan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah mengalami puncak musim kemarau pada September 2026. BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menyebut musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dari biasanya di sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi udara yang kering dan suhu tinggi dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, hujan lokal masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah sehingga masyarakat tetap diminta memantau informasi cuaca dan peringatan dini.
Selain menjadi kegiatan keagamaan, pelaksanaan salat istisqa di Ampana memperlihatkan keresahan warga terhadap dampak kemarau yang semakin nyata. Pemerintah dan masyarakat diharapkan tetap memperkuat penghematan air, menghindari pembakaran lahan, serta segera melaporkan titik api agar tidak meluas.
Sumber: Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah — Sumber asli
